elrozaqhaqiqi

This WordPress.com site is the bee's knees

MATERI

MEMORI DAN BELAJAR

 

A. BELAJAR
Pengertian
Belajar merupakan topik dasar dalam psikologi yang berperan penting dalam hampir semua cabang psikologi. Sebagai contoh, ahli psikologi yang mempelajari persepsi akan bertanya, “Bagaimana kita belajar bahwa orang yang kelihatan kecil dari jarak tertentu itu berarti dia jauh dan tidak berarti orang tersebut kecil. Seorang ahli psikologi perkembangan mungkin akan bertanya-tanya, “Bagaimana bayi belajar membedakan ibunya dengan orang lain?. Seorang ahli psikologi klinis akan bertanya, mengapa sebagian orang takut pada laba-laba?” Psikolog sosial akan bertanya, Bagaimana kita tahu bahwa kita sedang jauh cinta?”. Masing-masing pertanyaan ini meski ditarik dari cabang psikologi yang berbeda dapat dijawab hanya dengan mengacu pada proses belajar.
Belajar dapat diartikan sebagai perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Perilaku belajar memiliki ciri-ciri:
1. merupakan sebuah proses yaitu belajar secara umum menunjuk pada proses perubahan
2. relatif permanent, bahwa perubahan tersebut bukan karena kematangan, kelelahan maupun pengaruh zat-zat kimia
3. perilaku, bahwa belajar akan menjadi bermakna (signifikan) jika ada manifestasi eksternal yang dapat diamati sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan
4. bersifat potensial, sewaktu-waktu siap dimunculkan. Bahwa tidak semua yang kita pelajari berpengaruh langsung pada perilaku.
Tipe-Tipe Belajar
Belajar dapat dibedakan menjadi tiga tipe:
1. Belajar dengan pembiasaan /Kondisioning Klasik (Classical Conditioning)
2. Belajar operan/ Kondisioning Operan (Operant Conditioning)
3. Belajar melalui pengamatan (Observational Learning)
Kondisioning Klasik
Teori belajar dengan kondisioning (pembiasaan) ini pada awalnya tidak secara sengaja ditemukan oleh seorang fisiolog Rusia, yakni Ivan P.Pavlov (1849-1936). Pavlov banyak melakukan penelitian tentang gerak refleks pada saluran pecernakan dengan menggunakan anjing sebagai subyek percobaannya. Setiap kali ia masuk laboratorium, anjing itu mengeluarkan air liur meski tidak membawa makanan. Fenomena tersebut diteliti lebih lanjut sehingga melahirkan teori belajar yang disebut Kondisioning Klasik.
Prinsip belajar dengan kondisioning klasik adalah pemasangan stimulus bersyarat dengan stimulus alami secara berulang-ulang sehingga terbentuk perilaku baru yang disebut sebagai respon bersyarat.
Untuk lebih memahami proses terjadinya kondisioning seperti yang dilakukan dalam eksperimen Pavlov, ada beberapa konsep dasar yang perlu diketahui:
1. Stimulus Netral, yaitu stimulus yang – sebelum kondisioning – tidak berpengaruh terhadap respon yang diinginkan
2. Stimulus Alami (Unconditioned Stimulus/UCS), yaitu stimulus yang bisa menimbulkan respon secara alami/tanpa perlu dipelajari terlebih dahulu
3. Stimulus Bersyarat (Conditioned Stimuli/CS), yaitu stimulus yang tadinya netral, setelah proses kondisioning dapat menimbulkan respon yang diinginkan (respon bersyarat)
4. Respon Alami (Unconditioned Response/UCR), yaitu respon yang terbentuk akibat kehadiran stimulus alami
5. Respon Bersyarat ((Conditioned Response/CR), yaitu respon yang terbentuk setelah proses kondisioning (sebagai akibat dari pemasangan stimulus alami/UCS dan stimulus bersyarat/CS secara berulang-ulang )
Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:
Sebelum Kondisioning:
Stimulus Respon
Netral : Bunyi bel Tidak ada respon yang diharapkan
Alami/ UCS: Daging UCR: Mengeluarkan air liur
Selama Kondisioning
Stimulus Respon
Netral: Bunyi bel UCR: mengeluarkan air liur
Alami/ UCS: Daging
Sesudah Kondisioning
Stimulus Respon
Bersyarat /CS: Bunyi bel CR: mengeluarkan air liur
Percobaan lain yang sejalan dengan prinsip-prinsip kondisioning klasik adalah percobaan yang dilakukan oleh JB Watson dari Amerika. Dia memasangkan stimulus dengan suara keras yang dipaparkan pada seorang bayi bernama Albert. Suara keras secara alami menghasilkan rasa takut pada bayi, sedang binatang berbulu pada awalnya menimbulkan reaksi senang. Setelah pemaparan berulang-ulang binatang berbulu yang diikuti dengan suara keras, bayi Albert memberikan respon takut terhadap binatang tersebut.
Fenomena – fenomena dalam kondisioning klasik
1. extinction, adalah menurunnya frekuensi respon bersyarat bahkan akhirnya menghilangnya respon bersyarat akibat ketiadaan stimulus alami dalam proses kondisioning
2. spontaneous recovery: munculnya kembali respon bersyarat yang tadinya menghilang beberapa waktu kemudian tanpa pemaparan stimulus bersyarat.
3. generalisasi dan diskriminasi stimulus: generalisasi stimulus adalah respon yang terjadi terhadap stimulus yang mirip dengan stimulus bersyarat. Sedangkan diskriminasi stimulus adalah proses organisme belajar membedakan stimulus yang mirip dan membatasi responnya hanya terhadap stimulus bersyarat.
4. higher order conditioning, terjadi ketika stimulus bersyarat yang telah dipaparkan pada proses kondisioning sebelumnya dipasangkan dengan stimulus netral secara berulang. Jika stimulus netral ini dapat menimbulkan respon bersyarat yang mirip terhadap stimulus bersyarat sebelumnya,, higher order conditioning terjadi.
Kondisioning Operan
Berawal dari percobaan Thorndike lalu dikembangkan oleh Skinner. Skinner meyakini bahwa memang kita memiliki sesuatu seperti halnya jiwa atau pikiran, tetapi akan lebih produktif mempelajari perilaku yang dapat diamati daripada mengkaji peristiwa-peristiwa mental internal. Dia membedakan dua tipe perilaku, yaitu respondent behavior dan operant behavior. Respondent behvior adalah perilaku karena gerak refleks dan tidak perlu dipelajari. Operant behavior adalah perilaku karena hasil belajar dan kebanyakan perilaku manusia adalah termasuk dalam tipe ini.
Prinsip kondisioning operan memprediksikan jika suatu efek secara konsisten mengikuti suatu perilaku atau tindakan, maka kita akan belajar bahwa perilaku kitalah yang menimbulkan efek tersebut, terlepas apakah itu benar-benar penyebabnya atau bukan. Dengan kata lain, belajar terbentuk karena konsekuensi perilaku yang ditimbulkan menyenangkan atau tidak menyenangkan. Perilaku yang menimbulkan konsekuensi yang menyenangkan akan cenderung diulang (frekuensinya meningkat), sebaliknya jika konsekuensi yang ditimbulkan tidak menyenangkan maka perilaku akan cenderung dihindari (frekuensi menurun). Konsekuensi yang dapat meningkatkan probabilitas frekuensi terjadinya perilaku disebut reinforcement (penguatan/pengukuhan). Konsekuensi yang dapat menurunkan terjadinya perilaku disebut punishment. Macam reinforcement dan punishment dapat dilihat pada tabel berikut:
Jenis stimulus Pemberian Penghilangan
Positif (menyenangkan) Reinforcement positif Punishment by removal
Negatif (tidak menyenangkan) Punishment by applicatiion Reinforcement negatif
Jadwal pemberian reinforcement:
1. continuous reinforcement: setiap perilaku/respon yang tepat diberi penguat
2. partial reinforcement: tidak semua perilaku yang tepat diberi reinforcement, kadang diberi, kadang tidak
a. Ratio: berdasar jumlah respon
i. Fixed Ratio Schedule:: reinforcement diberikan pada setiap jumlah tertentu respon yang diharapkan secara tetap, misal setiap 3 x respon tepat
ii. Variable Ratio Schedule: reinforcement diberikan pada sejumlah respon secara bervariasi
b. Interval:berdasar rentang waktu
i. Fixed Interval Schedule: reinforcement diberikan pada setiap interval waktu yang tetap, misal setiap 10 menit
ii. Variable Interval Schedule: reinforcement diberikan pada setiap interval waktu yang bervariasi
Belajar Observasi
Teori belajar ini dikembangkan oleh Albert Bandura, merupakan perpaduan antara pandangan behavioristik dan kognitif, bahwa belajar tidak harus melalui reinforcement secara langsung seperti pada kondisioning operan. Belajar dapat terjadi karena individu meniru (imitasi) orang lain (model) yang mendapat reinforcement sebagai konsekuensi dari tindakan yang dilakukan oleh model tersebut. Ini disebut vicarious reinforcement. Bandura menyatakan bahwa terjadinya belajar sosial dengan melalui proses pengolahan informasi tentang konsekuensi yang diperoleh model sebelum memutuskan meniru atau tidak.
MEMORI (INGATAN)
Pengertian
Memori atau ingatan adalah proses memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi dan pengalaman yang kita peroleh. Menurut Andersen (1997) memori adalah rekaman pengalaman yang relatif permanen yang mendasari perilaku belajar. Kaitan memori dengan belajar: belajar mengacu pada proses adaptasi perilaku terhadap pengalaman dan memori menunjuk pada rekaman permanen yang mendasari adaptasi tersebut.
Proses memori dapat dibagi menjadi tiga tahap: tahap akuisisi (perolehan), tahap retensi (penyimpanan) dan tahap retrieval (pemunculan kembali)
repetitive elaborative rehearsal
rehearsal
informasi memori sensoris short term memory long term memory
informasi yang pada mulanya direkam dalam sistem sensoris masuk kedalam memori sensoris
Macam Memori
1. memori sensoris (Sensory Memory)
informasi yang langsung diterima alat indera dan akan hilang dalam waktu satu detik
2. memori jangka pendek (Short Term Memory)
informasi bertahan 15-25 detik. Disebut juga working memory karena saat beraktivitas kita membutuhkan informasi-informasi tertentu ysng penggunaannya hanya sesaat. Memori jangka pendek ini dapat kita tingkatkan dengan metode chunking, yaitu membagi-bagi informasi ke dalam unit-unit tertentu. Misal menghafal NIM: 71060017 menjadi 71-06-0017
3. memori jangka panjang (Long Term Memory)
informasi yang relatif permanent. Macamnya:
a. memori deklaratif: berisi informasi-informasi faktual, terdiri dari memori semantik dan memori episodik. Memori semantik adalah ingatan tentang pengetahuan/fakta-fakta umum, misal kitab suci umat Islam adalah Al-Quran. Memori episodik adalah ingatan tentang suatu peristiwa tertentu, misal ingatan ketika kita pertama kali masuk kuliah.
b. Memori prosedural: berisi informasi yang berhubungan dengan ketrampilan dan kebiasaan melakukan sesuatu. Misal ingatan tentang tatacara wudhu.
Mengingat adalah memunculkan kembali informasi tersebut pada saat dibutuhkan. Jika informasi yang kita butuhkan tersebut tidak dapat dimunculkan kembali secara utuh, maka itulahnyang disebut dengan lupa.
Ada beberapa penjelasan mengapa kita lupa
1. Teori Atropi (Decay Theory)
Lupa terjadi karena informasi yang pernah kita simpan tidak pernah lagi dimunculkan. Akibatnya jejak-jejak memori menjadi rusak atau hilang
2. Teori Interferensi
Informasi yang disimpan tidak hilang. Lupa terjadi karena informasi yang ada saling menghambat atau bercampur aduk. Macamnya:
a. interferensi proaktif: informasi yang baru masuk sulit dimunculkan karena terhambat oleh informasi lama yang sudah tersimpan (informasi lama menghambat informasi baru).
b. interferensi retroaktif: informasi yang sudah lama tersimpan sulit dimunculkan kembali karena terhambat oleh informasi yang baru masuk (informasi baru menghambat informasi lama).
3. Teori Kegagalan Mengingat kembali (Retrieval Failure Theory)
Informasi yang pernah kita simpan tidak akan hilang. Lupa terjadi jika tidak didapatkan petunjuk yang cukup untuk memunculkan kembali informasi yang pernah disimpan dalam memori. Misal
4. Motivated Forgetting
lupa terjadi karena adanya dorongan atau usaha untuk melupakan biasanya hal-hal/peristiwa peristiwa yang tidak mengenakkan. Memang ada kecenderungan manusia untuk tidak mengingat-ingat kembali pengalaman yang kurang menyenangkan/menyakitkan bagi dirinya.
5. Lupa karena sebab fisiologis (disfungsi memori)
Kelupaan terjadi karena faktor fisiologis, yaitu karena proses kimiawi, proses penuaan atau proses degenerasi sel otak dan syaraf. Macamnya:
a. amnesia retrograd, yaitu lupa pada informasi-informasi yang telah lalu. Misal lupa pada nama sendiri, orang-orang terdekat, alamat rumah, dan lain-lain.
b. Amnesia anterograd: lupa pada informasi yang baru saja masuk. Misal lupa bahwa tadi baru saja makan.
c. Penyakit alzheimer: lupa karena kerusakan sel otak secara progresif akibat kekurangan zat neurotransmitter yang disebut Ach (Asetilkolin)
d. Sindrom Korsakoff: lupa karena minum alkohol dalam jangka waktu lama sehingga kekurangan vit B1
Agar tidak mudah lupa ada beberapa teknik yang bisa kita pakai:
1. teknik kata kunci (keyword technique), yaitu mengingat suatu kata dengan cara mengasosiasikannya dengan kata lain secara interaktif.
2. metode lokus: menempatkan secara imaginer kata-kata yang akan diingat pada tempat-tempat tertentu yang sudah familiar bagi kita.
3. encodinng fenomena spesifik: memanfaatkan karakteristik lingkungan atau materi yang mirip dengan karakteristik lingkungan atau materi ketika memasukkan infprmasi.
4. organisasi materi teks, yaitu ketika membaca materi tertulis, memahami strtuktur bacaan tersebut. Cara lain dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri setelah membaca materi.
5. organisasi catatan kuliah: menggunakan teknik mencatat efektif yaitu penggunaan peta pikiran
6. praktek dan latihan
http://sadamcenter.blogspot.com/2011/07/belajar-dan-memori.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s